Demam Afrika Serang Luwu Utara, Belasan Ribu Babi Mati Mendadak

0

Luwu Utara dan Luwu Timur, Sulawesi Selatan, mengalami wabah Demam Afrika (African Swine Fever/ASF) yang mengkhawatirkan. Dalam beberapa hari terakhir, belasan ribu babi mati secara mendadak di dua daerah tersebut akibat virus mematikan ini.

Kepala Bidang Peternakan dan Hewan di Kabupaten Luwu Utara, Kaswanto, melaporkan bahwa jumlah babi yang mati akibat demam Afrika dan Hog Cholera mencapai 11.527 ekor pada Senin, 22 Mei 2023. Angka tersebut hanya mencakup laporan resmi dan belum termasuk kemungkinan adanya kasus yang tidak dilaporkan oleh para peternak.

Kaswanto mengungkapkan data ini saat melakukan peninjauan situasi penyebaran virus ASF di Dusun Pangalli, Desa Dandang, Kecamatan Sabbang Selatan. Langkah-langkah telah diambil untuk mengatasi penyakit ASF ini, di antaranya mengeluarkan surat edaran yang melarang lalu lintas ternak masuk dan keluar dari Luwu Utara.

Pihak berwenang juga melakukan penyemprotan disinfektan di kandang-kandang ternak warga, baik yang sudah terinfeksi maupun yang belum terjangkit ASF. Tindakan ini diambil guna mencegah penyebaran virus yang semakin meluas.

Menurut Kaswanto, virus ASF telah menyebar ke 8 kecamatan di Luwu Utara, dengan Kecamatan Sabbang Selatan menjadi yang terparah. Di wilayah tersebut, jumlah babi yang mati mendadak mencapai lebih dari 7 ribu ekor, sekitar 60-70% dari total populasi babi.

Kepala Purksesmas Hewan Sabbang Selatan, drh. Suarding, mengungkapkan bahwa data tersebut belum termasuk tiga desa di Kecamatan Sabbang Selatan, yakni Desa Teteuri, Desa Torpedo Jaya, dan Desa Bone Subur, yang belum didata secara lengkap.

Suarding juga mengungkapkan bahwa virus ASF ini telah masuk ke daerah Sulawesi Selatan dari luar, kemudian menyebar melalui lalu lintas perdagangan ternak. Situasi ini semakin mengkhawatirkan para peternak setempat.

Dampak langsung dari wabah virus Demam Afrika (ASF) ini dirasakan oleh para peternak yang mengalami kerugian materi yang cukup besar. Beberapa peternak di Kecamatan Sabbang Selatan melaporkan kerugian puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Salah satu peternak, Yustus Bunga, mengungkapkan bahwa sudah 22 ekor babi miliknya yang mati mendadak di Desa Dandang. Harga jual babi tersebut berkisar antara Rp 3-6 juta per ekor.

"Dalam total, kerugian saya sudah mencapai Rp 70 juta," ujarnya.

Yustus pun mengharapkan perhatian dan bantuan dari pemerintah bagi para peternak yang merugi akibat wabah ASF ini. Ia menekankan bahwa bantuan tidak boleh hanya diberikan untuk kasus virus Corona, karena kerugian ekonomi yang diderita peternak seperti dirinya sangat signifikan.

"Hingga saat ini, saya belum menerima bantuan dari pemerintah. Kejadian ini luar biasa, dan kerugian ekonomi bagi peternak seperti saya sangat besar," tegas Yustus.

Wabah Demam Afrika di Luwu Utara dan Luwu Timur menjadi perhatian serius pemerintah setempat. Langkah-langkah lebih lanjut diambil untuk mengendalikan penyebaran virus ASF dan memberikan bantuan kepada para peternak yang terkena dampak.

Posting Komentar

0 Komentar
Posting Komentar (0)